Sejarah pa-Jampang-an

GuRiLaPSS

  • Curug Luhur Cigangsa Surade
  • Batu Suhunan/Batu Masigit
  • Pantai Minajaya
  • Guha Gunungsungging

Wisata Sukabumi

sideBar



Home Buku Sejarah Surade Buku Sejarah Surade
Buku Sejarah Surade



Baladaka (Balad Pemuda Kreatif), sebagai wahana kreasi anak muda dalam masyarakat Kecamatan Surade baik sebagai obyek maupun sebagai subyek pemberdayaan generasi muda, merasa memiliki kepentingan dan ber-tanggungjawab untuk mewarisi, menghayati, mengamalkan dan terus menggelorakan nilai-nilai Sumpah Pemuda melalui berbagai aktivitas positif yang disesuaikan dengan kemampuan yang ada sebagai bagian dari kiprah masyarakat Surade dalam upaya mengisi Kemerdekaan Negara Republik Indonesia.


Semangat dan getaran Sumpah Pemuda Bangsa Indonesia tetap relevan dengan kondisi saat ini terutama nilai keteladanan, kepeloporan dan nilai kejuangan bagi generasi muda masa kini dalam menghadapi permasalahan yang dihadapi, terlebih dalam proses pembinaan dan pemberdayaan generasi muda serta dapat menjadi pedoman dan pendorong sehingga mempunyai kesempatan untuk berkembang tumbuh sehat, dinamis, maju, mandiri, berjiwa entrepaeneur, tangguh, unggul, berdaya saing, demokratis dan bertanggungjawab dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.



Dengan dijiwai semangat kebersamaan, maka kami mencoba menyusun buku ini dalam menguraikan dan membacakan kembali naskah piagam atau prasasti (manuskrip), dilengkapi dengan benda-benda dan tempat peninggalan bersejarah, cerita rakyat dan silsilah yang berada di wilayah Kabupaten Sukabumi pada umumnya dan di wilayah Kecamatan Surade dan sekitarnya pada khususnya, yang dalam pelaksanaannya dikoordinasikan dan bekerjasama dengan berbagai pihak yang memiliki kepentingan dalam upaya pelestarian sejarah dan budaya bangsa.


Kami bukanlah sejarawan terlebih budayawan, kami hanyalah kelompok pemuda yang peduli terhadap Surade, pengagum benda-benda kuno, terlepas apakah mengandung nilai sejarah ataupun nilai budaya, karena hal itu urusan para ahli. Atau tergantung kepada bagaimana orang menilai setelah diadakan penelitian dan dianalisa atau penelitian secara ilmiah, semacam konsep “apa yang terjadi” kepada konsep “laporan manusia mengenai apa yang terjadi”.


Sebagai warga masyarakat Surade, kami merasa terpanggil untuk ikut melestarikan benda-benda peninggalan sejarah yang berada di Surade dan sekitarnya. Kami sangat menyesalkan apabila benda-benda peninggalan bersejarah terabaikan dan dibiarkan begitu saja, apalagi jika generasi berikutnya di belakang hari sudah melupakan atau mungkin tidak akan mengenal lagi, padahal benda tersebut mungkin sangat berarti dan merupakan aset kekayaan budaya daerah, serta memiliki nilai sejarah.


Salah satu benda peninggalan sejarah yang kini telah punah adalah “Lukisan Wayang Beber” yang tersimpan pada ahli warisnya di Desa Pasiripis.  Selain itu, ada pula  beberapa lembar prasasti yang ditulis pada lempengan tembaga dan pada lembaran daun lontar (gebang) dengan ukuran kurang lebih dalam seruas bambu, kini telah menjadi abu, karena tidak mengalami perawatan atau tidak menggunakan semacam zat pengawet. Sayang sekali benda-benda tersebut tidak dikelola oleh Pemerintah. Hal ini kami memahami karena mengambil benda-benda semacam itu tentunya bertalian dengan kepercayaan serta aturan adat istiadat daerah, yang merupakan budaya yang harus dijunjung, dihargai, dan dihormati pula serta mengingat cara memelihara benda-benda tersebut kalau bukan ahlinya dalam mengurus atau menyimpan benda-benda tersebut sungguh sangat sulit dan tidak bisa sembarangan.


Memang benar seperti yang dikemukakan oleh Drs. H.M. Zen Jaenudin, Kepala Balai Pengelolaan Musium Negeri Sri Baduga Jawa Barat, bahwa “mengurusi benda-benda bersejarah itu bukan pekerjaan mudah terlebih jika benda-benda tersebut merupakan benda yang harus tetap terjaga, karena setiap saat akan dinikmati masyarakat demi kepentingan ilmu pengetahuan”.


Benda peninggalan bersejarah bisa disebut sebagai media pewarisan nilai-nilai budaya dari satu generasi ke generasi berikutnya, dan merupakan bukti nyata dari jejak-jejak sejarah yang umumnya memiliki nilai seni sehingga dapat dijadikan sebagai alat peraga yang sangat efektif bagi pendidikan dan juga dapat dijadikan sebagai objek wisata budaya. Namun sampai saat ini berbagai peninggalan sejarah purbakala belum dapat dimanfaatkan secara optimal, dan memang terasa sekali kurangnya pengenalan dan apresiasi terhadap benda-benda peninggalan tadi. Hal ini mungkin disebabkan masih kurangnya informasi mengenai hal tersebut di atas, untuk itu diperlukan upaya dan usaha agar peninggalan bersejarah dan purbakala dapat dimanfaatkan secara optimal.


Kami termotivasi juga oleh buku Kumpulan Makalah Simposium Pengajaran Sejarah dari Bidang Jarahnitra (1994 : 119-128) yang menyatakan “…..bahwa potensi kesejarahan di Jawa Barat itu belum banyak digali, masih banyak terabaikan, belum dilakukan penanganan. Jika kondisi kesejarahan di Jawa Barat tidak segera ditangani secara serius, dikhawatirkan masyarakat khususnya generasi muda akan kehilangan kesadaran akan sejarahnya……”


Ahmad Mansur Suryanegara, Drs. (1994 : 101) ”…..Sejarah lokal juga sebagai sejarah internasional, karena hakekat sejarah Indonesia di dalamnya terdiri atas sejarah lokal. Sejarah lokal belum mendapatkan tempat yang layak……”.


Saleh Danasasmita, Drs. (1978 : 10) : “Ngan di urang mah masalah panalungtikan sejarah, kawas dianggap pagawéan partikulir. Ngambah sajarah Sunda nu lain garapeun sagawayah mun teu ditaratas ti kiwari, rék iraha deui. Sajarah lokal bisa dikotéktak terus disaruingsum nepi ka ngaleunjeur!”. Cenah réa kénéh rautaneunana, leuwih alus tibatan henteu pisan mah.


Sedangkan Sykes mengatakan : ”Élmu bumi tanpa sejarah taya bédana ti bangké, sejarah tanpa élmu bumi sarua baé jeung galandangan anu teu puguh padumukan. Ku sabab sejarah téh hakékatna mangrupa habitat waktu, mangrupa sabagian tina kahirupan masyarakat daérah, nu teu bisa dileupaskeun tina tanah katut makhluk anu harirup di dinya!”


Urang kudu inget ka jalma ti heula nu ngélingan anu ditulis dina koropak 632, ti Kabuyutan Ciburuy–Bayongbong Garut (Amanat Penguasa Galunggung)  yen : ” hana nguni hana mangké tan hana nguni tan hana mangké, aya ma bahola aya to ayona, hanto ma bahola hanto to ayona, hana tunggak hana watang tan hana tunggak tan hana watang. hana ma tunggulna, aya to catangna(aya baheula aya ayeuna, euweuh nu baheula moal aya anu ayeuna, aya mangsa bihari aya mangsa kiwari, mun euweuh mangsa baheula  moal aya mangsa nu ayeuna, aya tunggul aya catang, mun aya tunggul tangtu aya catangna! mun euweuh generasi nu ti heula tangtu moal aya generasi sapandeurieunana).


Dikaitkeun jeung Sumber Daya Manusia anu hirup mangsa kiwari, ngenaan produk pamikiran masyarakat kiwari (boh politik, ekonomi, sosial, budaya) teu lepas tina bahan-bahan anu geus nyampak atawa munculna momentum téh balukar tina bahan-bahan anu nyampak ti saméméhna.

Kaitan dengan naskah piagam/prasasti (manuskrip) yang akan kami perkenalkan, maka kami mengajak untuk merenungkan apa yang disampaikan oleh Fuad Hasan, Prof (1992 : 36) bahwa “Sejarah adalah manifestasi yang khas manusiawi yang dapat kita telusuri sejak perkembangan kemanusiaan yang paling dini, sejauh itu meninggalkan jejak-jejaknya melalui perwujudan tertentu. Dari goresan berupa lukisan atau tulisan sampai dengan jejak yang berupa dokumen serta monumen, manusia sepertinya ingin menandai kehadirannya dalam suatu masa dan rekaman yang ditinggalkannya itu diharapkan di kemudian hari dapat menjadi petunjuk tentang kehadirannya itu”.

Kami termotivasi pula oleh keinginan dan harapan masyarakat Surade khususnya agar cerita rakyat, benda-benda peninggalan sejarah ataupun bernilai budaya dapat dilestarikan. Dan salah satu bentuk wujud kepedulian kami yaitu berusaha dengan sekempuan yang ada untuk menyusun buku ini, dengan harapan agar masyarakat Surade dan sekitarnya dapat mengenal silsilah, kebudayaan dan sejarah kotanya sendiri.



Dasar

1. Adanya penelitian, pendataan dan pendokumentasian Benda Cagar Budaya (BCB) di Kecamatan Surade, Jampangkulon, Ciracap, Ciemas, Waluran dan juga Kalibunder, yang dilaksanakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sukabumi (Sub Din Kebudayaan). Namun dari kegiatan tersebut tidak ada tindak lanjutnya. Maka sebagai warga masyarakat Surade, kami merasa terpanggil untuk turut serta melestarikan benda-benda peninggalan sejarah yang berada di Surade dan sekitarnya.


2.  Sulitnya untuk mendapatkan buku-buku bacaan yang berhubungan dengan pembinaan, pengembangan dalam pemanfaatan benda-benda peninggalan sejarah yang sangat bermanfaat bagi generasi penerus, baik untuk bacaan siswa SD, SMP , SMA dan masyarakat umum.


3.  Dasar hukum yang melandasi kebijaksanaan pelestarian peninggalan sejarah purbakala, merupakan dasar pemikiran dari bidang Muskala Kanwil Depdikbud Provinsi Jawa Barat yaitu :

a. UUD 1945 Bab 13 Pasa 32 tentang Kebudayaan Nasional

b.  Undang-Undang Nomor 5 tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya

c.  Kep Mendikbud Nomor 087/P/1993 tentang pendaftaran Benda Cagar Budaya

d.  Instruksi Mendikbud Nomor 15 tanggal 15 Agustus 1972 tentang Pengamanan Benda-benda Purbakala.

Tujuan


1.  Memperkenalkan jenis benda peninggalan sejarah dan purbakala yang berada di wilayah Surade dan sekitarnya, seperti Naskah Piagam Sunan Nalagangsa, Naskah Piagam Demang Sacapati, Naskah Piagam Ki Dipati Galunggung, Naskah Piagam Dalem Gede disertai dengan benda-benda lainnya yang juga merupakan peninggalan orang-orang terdahulu.

  1. Menambah wawasan pengetahuan sejarah sehingga dapat meningkatkan apresiasi terhadap peninggalan sejarah dan purbakala, baik melalui seni drama, puisi, dan lain sebagainya.
  2. Sebagai media baik edukatif juga kultural, selain dapat mempertebal rasa Kesatuan dan Persatuan Bangsa.
  3. Meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai aset budaya lokal dan kondisi perkembangan wilayah sebagai penopang kebutuhan masyarakat dalam melakukan perubahan menuju kualitas yang lebih baik.


Manfaat benda-benda dan tempat peninggalan bersejarah atau bernilai budaya.

  1. Memberikan visualisasi peristiwa kesejarahan dalam konteks waktu dan tempat.
  2. Dapat mempertinggi budi pekerti, kepribadian, mempertebal semangat kebangsaan, dan cinta tanah air. Dan terlebih bermanfaat sebagai penangkal budaya asing.
  3. Dapat dijadikan alat bantu dalam pelajaran pendidikan sejarah.
  4. Sebagai obyek wisata dan lain-lain.

 



Metode Penelitian


Kami bukan ahli dalam hal penelitian, apalagi  seperti halnya penelitian para ahli sejarah purbakala atau apapun sebutannya. Kami hanyalah pencatat dari apa yang didengar dari nara sumber dan para ahli, para pejabat yang berwenang di masa-masa nara sumber ikut terbawa/mengantar mereka pada saat mengadakan penelitian, pada saat yang berwenang mendata benda-benda peninggalan tadi, seperti halnya di saat Kasubdin Kebudayaan dan Kasubdin Pariwisata melaksanakan tugasnya ke Surade.

Dalam penelitian ini kami menggunakan metode historis, dengan tekhnik pengumpulan data melalui penelitian pustaka, wawancara, survey serta secara operasional melalui tahapan-tahapan berikut, yaitu :

1.  Heuristik: yakni proses bagaimana menemukan sumber

2.  Studi Kepustakaan; yaitu mencari buku-buku/brosur, atau yang berkaitan dengan benda-benda peninggalan sejarah.

3.  Kritik adalah mencari kebenaran dokumen serta pendukungnya yang berhubungan dengan dokumen naskah-naskah piagam, serta cerita rakyat yang juga berhubungan atau ada kaitannya dengan makna piagam.

4.  Interpretasi yaitu tahapan terjemah dan penafsiran piagam.

5.  Historiografi; yakni sistim penulisan sejarah.


Dalam perkenalan benda-benda peninggalan yang akan kami sajikan, apabila dikaitkan dengan sesuatu keharusan pada sistem penulisan sebagaimana mestinya menurut aturan–aturan tertentu, kami justru akan mendapat kesulitan. Dan inilah bukti kekurangan kami yang perlu dimaklumi para pembaca.

Tapi yang membesarkan hati kami adalah motivasi dan dorongan masyarakat Surade bahkan dari para mahasiswa Perguruan Tinggi dari Bandung, Bogor dan Jakarta, agar cerita rakyat, benda-benda peninggalan sejarah ataupun bernilai budaya segera dapat disusun dan diwujudkan dalam bentuk buku.


Pengertian Piagam di sini, hendaknya dibedakan dengan surat biasa ataupun semacam keterangan dalam memberikan piagam penghargaan materi lomba atau hasil kreativitas seseorang atau kelompok dalam perayaan hari-hari Nasional misalnya, tetapi Piagam yang dimaksud disini adalah “Oorkonde”.

Kami mengutip bahasan yang ditulis dan dimuat pada Koran Pikiran Rakyat, berjudul : “Cara Mendekati Prasasti Sebagai Sumber Sejarah” yang dikemukakan oleh tokoh/ahli peneliti benda purbakala yaitu Bapak Atja, Drs (1989 : 6) bahwa istilah yang dimaksud adalah “Oorkonde” yang diterjemahkan oleh Wojowasito menjadi “piagam atau Piagem (Bahasa Jawa), bahwa sebuah piagam adalah suatu bukti tertulis yang dinyatakan dalam bentuk tertentu. Piagam merupakan kesaksian yang berlaku mengenai suatu pokok uraian bersipat hukum.

Ada beberapa jenis naskah/prasasti atau piagam berkenaan dengan pemberinya, sehingga piagam dapat dibedakan antara lain: piagam kerajaan, piagam keagamaan, piagam tuan tanah (penguasa wilayah) dan piagam swasta.

Meneliti serta membaca naskah piagam (manuskrif) baik naskah piagam Sunan Nalagangsa, Naskah piagam Ki Dipati Galunggung, Naskah piagam Demang Sacapati, dan Naskah piagam Dalem Gede, tidak terlepas dari bantuan Paleografi yaitu suatu ilmu untuk meneliti tulisan kuno hasil karya tulisan tangan orang terdahulu baik yang ditulis pada kulit kayu saeh, tembaga, kuningan, pahatan batu, lontar (gebang), janur, yang ragam hurupnya bermacam-macam, tetapi sebagai sumber asalnya tetap dari India, baik Palawa, juga tulisan bentuk hurup Dewa Nagari, dan lain-lain.


Sesuai dengan  judul tulisan “Menguraikan dan Membacakan Kembali  Naskah Piagam” (Piagam bisa disebut juga Prasasti atau Manuskrif pada istilah atau sebutan lainnya), maka pengertian dari  judul tersebut dapat dijelaskan  bahwa konteks membaca bisa juga berarti menyimak informasi dengan melakukan atau melalui kegiatan membaca itu sendiri, bisa juga diartikan : mengkaji, atau meneliti, juga mendengar, melihat, bahkan menganalisis, kadang berdiskusi juga bisa dikatagorikan dalam pengertian membaca, melalui diskusi sehingga mendapatkan atau memperoleh informasi.


Pengertian Judul Tulisan “Menguraikan dan Membaca Kembali Naskah Piagam/Prasasti (Manuskrif)” : Sunan Nalagangsa, Demang Sacapati, Dipati Galungguing, Dalem Gede.

-  Membaca ; Menurut Poerwadarminta  (1985 : 75 ), adalah “melisankan tulisan, memahami apa yang ditulis”. Sedangkan menurut Henri Guntur bahwa “membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan penulis melalui media kata-kata bahasa tulis”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia pengertian membaca adalah “melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis, atau mendengar, memperhitungkan, memahami”.(1989:62)


-  Piagam ; menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1989 : 680), bahwa “Piagam merupakan Surat Resmi (tulisan pada batu, tembaga, dan sebagainya) yang berisi pernyataan, pemberian hak (tanah, dan lain-lain.) atau berisi pernyataan dan peneguhan mengenai suatu hal (tentang ikrar, dan sebagainya)”.


Pengertian “Menguraikan dan Membacakan Kembali Naskah Piagam/ Prasasti(Manuskrip)”, sebagaimana judul tulisan buku ini; kami hanyalah menguraikan kembali apa yang kami dengar dari nara sumber dan membaca ulang, atau membacakan kembali hasil temuan para ahli, sebagai hasil wawancara langsung dengan pakar sejarah dan ahli purbakala, atau studi banding dari sumber lain baik melalui buku-buku, majalah, perpustakaan, dan lain-lain, yang ada hubungannnya dengan materi judul tulisan dalam buku ini.


Selanjutnya mengenai pengertian Peninggalan sejarah, hal ini erat kaitannya dengan pengertian benda cagar budaya seperti tercantum dalam UU No. 5 tahun 1992 pasal 1 ayat 1 dan 2. Adapun yang dimaksud dengan peninggalan sejarah purbakala dapat berupa benda bergerak maupun tidak bergerak sekaligus tempat di mana benda-benda tersebut berada (situs). Benda tersebut dapat berupa bekas pemukiman, alat kerja, perkakas rumah tangga, alat upacara keagamaan, bangunan-bangunan, arca, hasil seni, fosil, dan lainnya yang berkaitan dengan kegiatan manusia pada masa lalu.


Untuk menunjang materi tulisan ini jelas diperlukan data dan fakta. Kami berupaya untuk dapat menyajikan sekemampuan mungkin pada buku ini agar para pembaca dapat melihat fotonya sebagai duplikat jika benda-benda tersebut rusak atau hilang.


Oleh karenanya, kami berupaya untuk menemui penyimpan benda-benda peninggalan tadi, dan bahkan meminta foto hasil/dokumen para ahli sewaktu mengantar beliau kepada penyimpan benda purbakala, kuncen kuburan keramat, tempat yang dilindungi pemerintah seperti situs sejarah dan lain-lain, yang berhubungan dengan benda-benda peninggalan dan dianggap memiliki nilai sejarah atau pun memiliki nilai kebudayaan.


Di Musium Pusat (Gedung Gajah) ataupun di Musium Sri Baduga Bandung, banyak tersimpan duplikat juga asli benda–benda peninggalan dari berbagai daerah di Jawa Barat. Dan arsip sebagai tolak ukur penilaian yang dapat dipertanggungjawabkan adalah keakuratan laporan terutama yang ada catatannya dengan catatan Kompeni pada apa yang disebut “Daghregester” (catatan harian kompeni). Bahkan catatan kompeni merupakan sumber primer dalam kajian sejarah di Indonesia. Perlu diakui bahwa Daghregester itu penting dalam kesejarahan di Indonesia. Mengingat banyaknya versi (kaol) dapat mengurangi nilai kesejarahan, terlebih bila masuknya (subyektivitas) unsur penulis yang melarutkan idenya pada alur babaran kesejarahannya sebagai produk pemalsuan melalui tangannya.


Pengkajian naskah-naskah kuno di Jawa Barat, seperti yang ditulis pada Koran Pikiran Rakyat tanggal 2l, 22, 23 Pebruari 1989 dikemukakan oleh Ayat Rohaedi, DR (1989 : 6), adanya 3 kelompok pengkaji tulisan kuno, antara lain:


1.  Kelompok pertama, yaitu ahli prasasti Widyaleka (Epigrafi) yang bidang kajiannya menggeluti tulisan-tulisan pada batu, tembaga, kuningan, perunggu, dan logam lainnya.

2.  Kelompok kedua;  yaitu ahli prasasti Widyaksara (filologi), bidang kajiannya menggeluti tulisan pada lontar, daluang, kulit kayu saeh. Kebanyakan tulisan Arab.

3.  Kelompok ketiga; yaitu ahli Ilmu Kearsipan (Arsivologi), bidang kajiannya menggeluti tulisan-tulisan kertas, terutama kertas Eropa beraksara Latin.


Ayat Rohaedi, DR. memperingatkan, bahwa : “… perlu adanya pengujian dan kehati-hatian  dalam pembacaan tulisan kuno”. Naskah atau piagam dapat dibagi  menjadi beberapa bagian antara lain yang terpenting adalah pertama dilihat dari adegan, dan berikutnya dilihat dari  kebenaran.

 

Pertama; dilihat dari  “Adegan” atau “Struktur Naskah”.

Struktur naskah piagam terdiri 3 bagian yaitu Pembukaan, Isi, dan Penutup. Bagian pertama merupakan Pembukaan atau disebut ”Purwaka”, yakni tataran kata atau kalimat pada pembukaan suatu naskah piagam. Kemudian bagian kedua yaitu Isi. Isi naskah biasanya inti pesan atau paparan cerita, tentang bagaimana kronologi peristiwa, serta memuat maksud atau tujuan yang bersifat insani (Human Interest), serta bagian yang ketiga adalah Penutup atau Kolofon, yakni bagian paling singkat, yaitu kapan naskah selesai ditulis, biasanya termuat candrasangkala atau titimangsa tulisan itu selesai dibuat.


Kedua;  dilihat dari  “Kebenaran”

1. Apakah “kebenaran” dalam naskah yang seutuhnya, sama dengan kebenaran kita selama ini sebagaimana tampak pada nama-nama tokoh, nama-nama tempat (daerah) yang belum pernah kita   ketahui?”

2.  Kemudian “kebenaran“ dalam naskah yang belum menjadi milik kita berupa nama-nama tokoh, nama-nama tempat (daerah) juga belum pernah kita ketahui. Yang juga bertalian dengan  masalah  fenomena, masa-masa peristiwa, dan masa suatu penguasa berkaitan dengan para tokoh dalam suatu peristiwa tersebut.

3. Ada juga “kebenaran“ melalui perbandingan dengan sumber lain berdasar data/fakta sebagai suatu standar kebenaran, dan tentu kita akan merenungkannya.

4. Yaitu, “kebenaran” dalam naskah yang berlainan dengan “kebenaran” kita sebagai penafsir?”


Terlepas apakah benar, atau mendekati kebenaran benda-benda peninggalan seperti yang disajikan dalam tulisan ini dapat diperkenalkan  cerita rakyat yang ada kaitannya dengan makna kandungan isi piagam, misalnya dapat dijadikan sumber sebagai fakta sejarah, tentunya sambil menunggu keputusan para ahli yang sengaja meneliti dibidangnya. Kita maklumi bahwa pembacaan piagam yang bukan ahlinya memerlukan kecermatan. Kami masih banyak kekurangan dalam membuka tabir atau kisah dibalik makna atau isi piagam. Naskah piagam Sunan Nalagangsa misalnya, juga Naskah piagam Demang Sacapati tanpa menuliskan candrasangkala (titimangsa) kapan naskah itu  selesai ditulis.


Menurut  para ahli, bahwa naskah piagam Sunan Nalagangsa, juga naskah piagam Demang Sacapati merupakan hasil tinulad (salinan) yang barangkali hasil salinan orang ke berapa dari penulis pertama (penulis naskah asli). Namun di pihak lain tetap piagam itu memiliki bobot dan nilai serta merupakan fakta sejarah. Kami maklum dan menyadarinya, dan sebagaimana yang dikemukakan oleh A.B. Lapian (PMB-LIPI) (l993 : 46-60), antara lain, bahwa “Sumber sejarah apa pun senantiasa harus dikenakan kritik ekstern dan intern, sebelum dapat digunakan sebagai sumber penulisan sejarah”.


Harus diakui bahwa penulisan sejarah lebih banyak mengandalkan sumber Belanda (VOC). Kami pun memahami apa yang dikemukakan oleh Dr. Taufik Abdulah (PMB-LIPI) (1993 : 1,18) bahwa “Sejarah tanpa kredibilitas tidak pernah diperlakukan sebagai sejarah”.


Sejarah atau Ilmu Sejarah menurut Dr. Nursid Sumaatmaja (1986:33-34) dapat diartikan sebagai riwayat masa lampau atau suatu bidang ilmu pengetahuan yang menyelidiki dan menuturkan riwayat masa lampau tersebut sesuai dengan metode-metode tertentu yang dapat dipercaya (History is the cronicle of the past and the discipline which investigates and narrates it in accordance  with certain accredited methods).


Dari analisa sejarah tentang suatu gejala, suatu peristiwa atau suatu masalah kita dapat mengadakan prediksi hal-hal tersebut pada masa yang akan datang, penelaahan suatu gejala atau suatu masalah dengan menggunakan pendekatan-pendekatan sejarah ini termasuk penelaahan yang dinamis karena memperhatikan urutan prosesnya dari waktu ke waktu. Penelitian dan pengkajian sejarah erat sekali dengan kepurbakalaan, antropologi, ilmu bahasa, dan geologi sejarah, terutama ilmu pengetahuan kebudayaan dan ilmu pengetahuan sosial.


Kita semua memaklumi bahwa di lain pihak tidak semua fakta dan peristiwa bisa dijadikan sejarah, tidak juga semua peristiwa dijadikan patokan sejarah, sebab nilai dan makna itu diberikan orang pada realitas yang bersangkutan dengan kata lain bukanlah realitas itu pada sendirinya memiliki nilai dan makna, melainkan ia diberi nilai dan makna di kemudian. Mungkin disinilah letak tantangan pertama bagi sejarawan, sebagaimana yang dikemukan Dr. Fuad Hassan Mentri Pendidikan RI (1992 : 38), beliau mengemukakan, bahwa : ”tantangan bagi sejarawan ia harus bertaut dengan kenyataan-kenyataan masa lalu, dan untuk itu ia harus dijembatani oleh rekaman jejak-jejak masa lalu, apa pun bentuk jejak-jejak itu. Ia harus meneropong masa lalu melalui “konfrontasi“ dengan realitas yang masih tersisa di masa kini”.


Realitas termaksud pada hakikatnya tidak lebih dari sekeping kenyataan yang pada sendirinya bisu belaka, sejauh mana kenyataan itu bisa diterobos kebisuannya, lalu selanjutnya berperan memberikan kesaksian pada suatu fragmen sejarah sangat tergantung dari kemahiran sang sejarawan untuk menemuinya sebagai representasi masa yang sudah silam. Melalui penemuannya itu sang sejarawan seolah-olah harus memulai perjalanan retrogresif. Jelasnya ”merakit sejarah” berbeda dengan “meramu dongeng“. Jelas pula bahwa pembinaan identitas bangsa tidak mungkin dilepaskan dari kesadaran bangsa itu sebagai kesejarahan. Bahwa kesejarahan adalah kesadaran keterkaitan pada masa lalu yang bermakna dan ikut membentuk status prasens, dalam arti inilah maka kesejarahan itu sangat penting artinya dalam pembentukan identitas baik sebagai pribadi atau pun sebagai kolektivitas.


Dikaitkan dengan tujuan dari penulisan buku ini, kami sengaja mengikuti pendapat Dr. Anhar Gonggong Sejarawan Nasional (1993 : 79-91) bahwa : ”Tujuan Strategis sejarah ialah menciptakan manusia dewasa yang mampu mengenal, mengetahui diri sendiri, sekaligus memiliki identitas diri, inilah faktor penting sejarah dalam memberikan landasan dalam proses pendidikan”.


Adapun kaitannya dengan upaya pendidikan sebagaimana termuat dalam Bab II pasal 3 UU RI No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, menyebutkan bahwa : “Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlaq mulia, sehat, berilmu cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab”.


Sedangkan hubungannya dengan pelajaran Sejarah, seperti yang dikemukakan Dr. Anhar Gonggong (1993 : 80) bahwa “Pendidikan atau disempitkan dalam pengertian pengajaran adalah suatu usaha yang bersifat sadar tujuan yang dengan sistematik terarah pada perubahan tingkah laku menuju kedewasaan anak didik”.


Perubahan yang dimaksud mengarah kepada proses yang harus dilalui. Tanpa proses tujuan tak akan tercapai. Sadar tujuan merupakan faktor yang sangat penting karena pendidikan dilaksanakan tidak tanpa tujuan. Untuk mencapai tujuan dalam arti membimbing dan memperkembangkan diri, ada faktor yang sangat penting untuk dipahami ialah waktu dan perubahan. Untuk menggali potensi diri Sumber Daya Manusia bahwa pendidikan sadar tujuan memberikan bekal bagi anak didik untuk menjadi dewasa dan mampu menghadapi tantangan zaman. Sehubungan dengan itu salah satu bekal yang diberikan kepada anak didik dalam proses pembekalan diri menjadi dewasa adalah sejarah. Mata pelajaran sejarah memberikan sumbangan terhadap pemahaman kita dan terhadap arti penting dari waktu yang memiliki tiga dimensi, sejarah akan memberikan pemahaman diri dan perubahan yang akan terus terjadi dan dihadapi.


Kalau kita berdialog dengan berbagai peristiwa, tentu dengan saksi-saksi yang dapat dikumpulkan yang terjadi pada waktu hari ini – masa lampau, maka sebenarnya itu dilakukan bukan untuk kepentingan manusia masa lampau itu. Manusia masa lampau tidak lagi akan berubah, yang berubah ialah interpretasi terhadapnya. Yang melakukan interpretasi itu manusia yang menulis rangkaian peristiwa itu. Sejarah akan memberikan sumbangannya bagi manusia kini dan juga untuk masa depan. Jika kita memiliki kesadaran untuk mengetahui diri kita, sejarah akan hadir ditengah-tengah kita, di masa depan melalui pendidikan. Kehadirannya secara “apa adanya” dan di sukai oleh anak didik akan sangat ditentukan oleh para pengajar, guru sejarah. Dengan demikian guru memiliki kedudukan penting untuk menghadirkan sejarah melalui pendidikan yang sadar tujuan.


Garapan pokok mempelajarai patokan-patokan dalam menilai keaslian piagam (prasasti) perlu diperhatikan kaidah-kaidah tertentu. Penilaian yang asli dan tidak asli melindungi kita dalam pemakaian data yang tidak berasal dari waktu piagam itu diberi penanggalan. Apabila sebuah piagam ditemukan ternyata tidak asli, maka penilaian itu biasanya tidak mengenai seluruh bentuk dan semua isinya, karena kebanyakan pemalsu mempergunakan suatu contoh yang asli. Pembuatannya sejauh mungkin diusahakan memberi keaslian semu. Oleh karena itu piagam yang palsu acapkali menyimpan sebagian, kadang-kadang suatu rekonstruksi lengkap yang berkaitan dengan contoh yang asli, apabila diketahui bahwa pembuatan dan peristiwa pemalsuan itu tidak dapat dibantah. Namun demikian unsur-unsur yang tidak asli memberikan wawasan perihal maksud pemalsu maka dengan demikian piagam palsu itu memperoleh suatu bobot baru sebagai sumber. Sebuah piagam adalah bukti tertulis yang dinyatakan dalam suatu bentuk tertentu, piagam itu merupakan kesaksian yang berlaku mengenai suatu pokok uraian yang bersipat hukum.


Prasasti salinan kadangkala tidak dianggap berharga oleh sebagian ahli sejarah. Pendapat demikian oleh Van Naerssen dianggap tidak adil, dikatakan olehnya, bahwa mungkin itu ada kesempatan pada waktu itu untuk dibuat sebuah salinan semacam itu, dan prasasti itu tidak diakui sebagai “authentiek”. Authentiek dalam pengertian tidak berlaku menurut hukum, tetapi dalam kenyataannya tidak menyelesaikan masalah. Pada dewasa ini bagi para ahli sejarah, ahli sosiologi, peneliti hukum adat, maupun peneliti bahasa sangat menarik untuk diketahui dan tidak dapat disisihkan begitu saja.


Studi tulisan yang terdapat dalam naskah-naskah piagam sangat penting untuk penafsiran teks yang tepat, jika orang salah membaca maka terjemahan  dan interpretasi selanjutnya kemungkinan besar salah juga. Pada umumnya tidak sulit untuk menandai antara tulisan Jawa pesisir Timur (dari Gresik, Surabaya, dan Madura), dengan tulisan Pulau Jawa pesisir Barat (dari Cirebon dan Banten). Dengan cara mengupas ungkapan dan ejaan secara cermat, penyelidikan sebuah naskah dapat menolong dalam menetapkan asal-usul teks dan isinya. Acuan mengenai pengaturan cara menuliskan huruf Jawa secara terinci terdapat dalam buku tata bahasa yang disusun oleh Prof. T. Roorda, yang terbit pada tahun 1885, dan cetakan ulang pada tahun 1874, 1882, 1893, 1906.


Dilihat dari keberadaan benda peninggalan yang akan kita bahas ini; seperti Naskah Piagam Sunan Nalagangsa, Naskah Piagam Demang Sacapati, Naskah Piagam Dipati Galunggung, dan Naskah Piagam Dalem Gede, sementara ini tidak diakui sebagai “authentiek”, karena para ahli menilai sebagai naskah tinulad, walau demikian di lain pihak naskah tersebut bisa digunakan bagi kepentingan penelitian ilmu pengetahuan ilmiah, merupakan bukti fisik fakta sejarah dan berlaku dijadikan sebagai sumber sejarah. Hal ini didasarkan kepada beberapa pendapat para ahli peneliti (pakar sejarah) lainnya, antara lain :


1.  Ayat Rohaedi, Dr. ( 1989) : “Bahwa sampai taraf tertentu naskah yang menyebut dirinya sejarah, hikayat, asal-usul, silsilah, cerita, tambo, babad,  dapat dimanfaatkan sebagai sumber sejarah” (Judul Tulisan Antara Perang Troya dan Mahabrata, Koran Pikiran Rakyat  21-02-1989).


2.  Atja, Drs. (1989) : “…rekontruksi akan lengkap dengan contoh asli, namun unsur yang tidak asli memperoleh bobot baru sebagai sumber”. Demikian pula menurut Herman Van Neerser yang juga mengutip pendapat Frits, bahwa piagam salinan sangat menarik untuk diketahui dan tidak dapat disisihkan. (Judul tulisan “Cara Mendekati Prasasti sebagai Sumber Sejarah; Koran Pikiran Rakyat  21 –03-1989).

 

3.  Edi. S. Ekadjati (Mangle Majalah Sunda Nomor 581 kaca 10 kolom 3), ”Eusi naskah nu geus mangrupa hasil pagawéan subyéktif, henteu ngandung harti yén sakabéh naskah henteu bisa dipercaya eusina, sababaraha naskah, seperti naskah nu asalna ti Galuh, Sukapura, Banten sanggeus dianalisa ku métode sejarah, sarta dibandingkeun jeung arsip Kompeni, nyatana mah ngandung fakta nu bisa dijadikeun sumber sejarah“.


Buku “Sejarah Surade” telah melalui beberapa proses yang sangat panjang. Sumber utama sebagai Narasumber Buku ini adalah Ki Kamaludin dan Ki Anis Djatisunda (Budayawan Jawa Barat).

 

Facebook Like

© 2014 baladaka.org | baladaka surade by vonfio.de