Home Buku Sejarah Surade Buku Sejarah Surade
Buku Sejarah Surade


Mengupas tuntas Asal-Usul / Sejarah terjadinya nama Surade, manuskrip piagam peninggalan sejarah, benda-benda dan situs peninggalan sejarah, cerita rakyat, adat istiadat dan lain-lain.

 

Buku “Sejarah Surade” telah melalui beberapa proses yang sangat panjang. Sumber utama sebagai Narasumber Buku ini adalah Ki Kamaludin dan Ki Anis Djatisunda (Budayawan Jawa Barat).



Suatu komunitas bangsa yang sekali saja generasinya tidak tahu menahu warisan jati diri budaya dan sejarah pribadinya sendiri maka sepanjang zaman warisan budaya dan sejarahnya itu akan lenyap dari hati bangsa itu. Hilangnya warisan budaya dan sejarah suatu bangsa, berarti hilang pula entitas (keberadaan) dan eksistensi (kehidupan) bangsa itu


Di era globalisasi sekarang ini nasib kesenian dan budaya daerah, keberadaan dan kehidupannya sangat memprihatinkan di kalangan generasi muda. Hancurnya ketahanan budaya bangsa berarti pula ambruknya ketahanan nasional. Perilaku budaya yang baik dan buruk di masa lampau, hendaknya jangan di campakan, tetapi harus dijadikan landasan untuk melangkah ke masa depan.


Peninggalan sejarah yang berasal dari masa ke masa, tidak hanya berbentuk benda tetapi juga berupa tradisi, legenda, dan lain-lain yang merupakan dokumentasi kebudayaan. Selain itu peninggalan sejarah merupakan hasil logika, etika, estetika bangsa Indonesia, yang mencerminkan sejarah dan budaya bangsa. Dapat dijadikan sumber inspirasi untuk meningkatkan apresiasi yang dapat dikembangkan melalui karya seni lainnya baik dalam bentuk naskah Teather, Sinetron,  Roman Sejarah,  puisi, pantun dan lain-lain.


Kelompok masyarakat etnik/suku Sunda pada zaman dahulu sudah memiliki berbagai peraturan kemasyarakatan yang kala itu lajim disebut purbatisti purbajati atau sanghyang siksa. Di dalamnya terkandung nilai-nilai; nilai pengetahuan, nilai religi, nilai sosial, nilai ekonomi, nilai seni yang ditunjang oleh norma-norma dan aturan-aturan hukum. Salah satu prediksi solusi tumbuh kembalinya budaya pribadi bangsa kita melalui motto “Ka hareup ngala sajeujeuh, ka tukang ngala saléngkah, ka kamari pulang anting, isukan mindeng anjangan, ulah poho tempa tempo ka pagéto”.


Surade adalah suatu tempat ibu kota kecamatan dan termasuk wilayah pemerintahan di Kabupaten Sukabumi. Letaknya di pesisir pantai Samudra Indonesia (± 112 Km) dari pusat kota Sukabumi ke arah Selatan. Masyarakat Surade merupakan kelompok suku Sunda yang memiliki sistem budaya pribadi sendiri dalam memandang institusi budaya hidupnya, tidak terlepas dari benang merah masa lalu, yakni “Sejarah Surade”. Buku Sejarah Surade merupakan sebuah upaya dalam rangka mewariskan nilai-nilai yang terkandung dalam makna cerita rakyat sehingga dapat bermanfaat bagi warga masyarakat dalam mengidentifikasi rentang benang merah institusi budaya masa lalu masyarakat, merentang ke depan meniti perkembangan zaman yang demikian gencar.


Lahirnya buku Sejarah Surade suatu penanda, pembuktian bahwa Surade dan sekitarnya memiliki perjalanan sejarah daerah dan masyarakatnya yang cukup heroic dan benar-benar otentik. Ditemukannya icon-icon superioritas putra-putri Rd. Mas Jagabaya Bupati Galuh Imbanagara (1731 – 1752 M) yang meninggalkan kampung halamannya seperti Nyi Raden Raksanagara, Raden Mas Martanagara eyang Karang Bolong, Raden Mas Surabujangga, Raden Mas Surawiangga embah Emas Jampangkulon, Raden Mas Suranangga Eyang Wira Santri Dalem Cigangsa dan Nyi Raden Mas Suradewi, para pejuang penentang Kompeni Belanda pada tahun 1750-an yang rela kehilangan nyawa dari pada harus tunduk kepada penjajah, membuktikan bahwa diantara masyarakat Surade dalam tubuhnya mengalir darah-darah pahlawan yang bangsawan. Namun sejarah menceritakan bahwa demi merujuk kepada tujuan persatuan dan kesatuan diantara keturunan mereka dengan pihak-pihak lainnya, maka jabatan dan gelar kebangsawanan mereka ditanggalkannya seraya melarut dengan kalangan masyarakat biasa secara turun temurun dengan tertib, rukun, aman, penuh keserasian dan kedamaian.

 


Cerita ini terungkap dengan ditemukan sebuah kampung tempat persinggahan bangsawan Imbanagara Rd. Mas Surabujangga ketika pengejaran terjadi atas dirinya dan saudaranya oleh Mataram dan kompeni Belanda sampai wafatnya. Tempat ini pula yang menjadi saksi atas peristiwa sangat tragis yaitu terjadinya perselisihan antar saudara sebangsanya sehingga memakan korban yang tidak sedikit dari keduanya. Tempat ini yang menjadi bukti adanya Surade yaitu kampung Sindanglaya.


Tidak hanya itu yang menjadi bukti sejarah adanya Surade, terdapat beberapa hal yang perlu kita ketahui dan kaji, diantaranya ditemukan sebuah buku tulisan kunonya sebut saja Buku Hideung. Buku ini merupakan bagian bukti sejarah adanya Surade. Karena isi dari buku tersebut salah satunya mengisyaratkan adanya kekuatan pangeran sejati yang memiliki kesaktian serta disemangati oleh darah perjuangan dan selalu diliputi rasa kasih sayang, pejuang lahir dari Imbanagara dan pergi ke kesejatian sejati. Rahadian jaya metu, teu twah ka hibas ratu jati pangeran, ka sira sakabeh rahadian sup Ka leubeut metu sakti (bur) ”titip” ..........dst. (Darah unggul tidak seberapa keluar, (karena pertanda) kekuatan pangeran sejati, terceceri semua darah unggul….masuk…., kepada yang penuh (dengan) kesaktian….bur….Titip. ……dst


Buku Sejarah Surade merupakan hasil penelusuran Baladaka (Balad Pemuda Kreatif) Surade sejak tahun 2005 - 2008, ditunjang dengan pengalaman narasumber sebagai petualang sejak tahun 1967 yang memperkuat keakuratan cerita dalam buku Sejarah Surade. Selain itu untuk mendapatkan legimitasi dari masyarakat Surade dan pemerintah maka diadakan seminar tentang Penulisan Buku Sejarah Surade bekerja sama dengan Kabid Bina Kebudayaan Dinas P & K Kabupaten Sukabumi, pada Hari Minggu, 22 Juni 2008 dengan menghadirkan para pejabat di lingkungan Pemerintah Kabupaten Sukabumi, tokoh masyarakat, para penutur cerita dan para penyimpan benda peninggalan sejarah, dengan menampilkan narasumber baik lokal maupun para budayawan Kabupaten bahkan budayawan Jawa Barat.


“Surade” berasal dari kata “Sura-Rah-Hadian. Artinya berani mengeluarkan darah demi kesucian atau darah manusia pemberani demi kesucian, demi perdamaian, demi persaudaraan. Surade berdiri pada tanggal 2 bulan Syuro tahun Wawu (kalender Jawa), bertepatan dengan hari Anggara, tanggal 20 wulan Kapat Purnimanta (Krisnapaksa) sama dengan tanggal 4 wulan Kalima Amanta (Suklapaksa), candrasangkala Nora Hasta Sad Rahayu tahun Saka (kalender Sunda). Bertepatan dengan hari Selasa, tanggal 5 Desember 1758 Masehi (perhitungan/terjemahan Anis Djatisunda).


Daftar Isi Buku Sejarah Surade


Cover Luar


Cover Dalam


Rajah Pamunar


Kata Pengantar Tim Penyusun


Ucapan Terima Kasih


Kata Pengantar Budayawan Jawa Barat


Daftar Isi


Sambutan Bupati Sukabumi


Sambutan Ketua DPRD Kabupaten Sukabumi


Sambutan Kepala Dinas P & K Kabupaten Sukabumi


1.  Sejarah Tonggak Kebudayaan


2.  Kilas Sejarah Surade


3.. SURA-RAH-HADIAN


Menceritakan perjuangan keluarga Rd. Jagabaya bupati Galuh Imbanagara pada tahun 1750-an, termasuk Demang Wanasari, Kaligangsa-Brebes, Demang Pasirbatang, Demang Pasirluhur dan Demang Panjalu dalam melawan penjajahan kompeni Belanda dan Mataram di pinggir sungai Citanduy. Akhirnya mereka sampai ke Kp. Pamungguan (dekat Kp. Paniisan-Bolenglang, dekat Kp. Jambansari-Ciamis), ke Kp. Jagabaya dekat Cililin Bandung, ke Cilauteureun, Sindangbarang, ke Cangklek Cianjur hingga ke Cikaso, Cibitung dan ke Pelataran Surade. Sepak terjang perjuangan eyang Karangbolong, embah Emas Jampangkulon, Nyi Raksanagara, Nyi Putri Suradewi dan Rd. Surabujangga, eyang Wirasantri Dalem Cigangsa hingga berdirinya Surade dan terucapnya sebuah wangsit :


“Wahai, seluruh yang berada di tempat ini, eratkanlah persaudaraan diantara kalian. Buanglah kebencian dan tumbuhkanlah rasa kasih sayang diantara kalian, karena kasih sayang akan mengajari kita merasa kaya walau tanpa memiliki banyak harta benda. Dengan kasih sayang, kita akan mendapatkan kesaktian walau tanpa aji dan mantra, kita berani tampil ke medan laga walau tanpa bala tentara. Dengan kasih sayang akan memperoleh kemenangan, tanpa merusak martabat lawan. Sebaliknya…dengan dendam dan kebencian…. Tak akan pernah mendapatkan hikmah dalam kehidupan ini. Luka pada diri kalian, jangan pindahkan menjadi milik orang lain. Ketahuilah, sampai kapanpun tak akan ada orang yang bisa menentang kasih sayang!. Maka mulai hari ini, hilangkan permusuhan, hindarkan peperangan, karena perang tidak akan menguntungkan siapapun. Sejak kejadian ini, untuk anak, cucu, serta keturunanku, mulai hari ini gelar nigratku akan aku tinggalkan, sebab menurutku, gelar raden, walau tidak terukir pada namaku dan keturunanku tetapi kelak dikemudian hari, aku akan menyaksikan bahwa tidak akan sedikit dari anak, cucu, keturunanku, keturunan kita semua, banyak yang akan menjadi pejabat negara yang arif, adil dan bijaksana.


4.  Upacara Nyebor


Upacara Nyebor merupakan adat kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat Surade dengan melakukan do’a bersama memohon keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Upacara nyebor dilaksanakan berdasarkan pada titimangsa pemberian / berdirinya suatu kampung dengan menanamkan batu indung lembur (ungkal biang) sebagai tanda berdirinya sebuah kampung.


5.  Membacakan Kembali Naskah Piagam/Prasasti (Mansukrip)


1.  Piagam Sunan Nalagangsa


a. Isi Naskah Piagam Sunan Nalagangsa


Purwaka  : penget pikukuh saking susuhunan nalagangsa …… dst

Paparan  : ………………manukan kukuhana hing Ladeh……………..dst

Kolofon : ………………..ora kawengku dening bumi langit, titip.


b. Kaitan antara isi naskah piagam Sunan Nalagangsa dengan cerita rakyat


Asal-usul nama kampung Batu Suhunan


Menceritakan Kesultanan Mataram dalam membangun kacutakan Ladeh untuk dipekarkan menjadi distrik yang berada di sekitar Sumedang, Cirebon Talaga, Majenang dan Kuningan, Kaligangsa, Losari Brebes). Berbatasan dengan Sugih (Majalengka), Wado (Sumedang), Talaga Kuningan, Mandirancan, Majenang, Cimanggu, Karangpicung, Galuh (Ciamis), Cikijang, Parakanmuncang, Timbangan dan Limbangan, Garut. Perjuangan Sultan Mataram beserta Sunan Nalagangsa, Panembahan Ladeh, Penghulu Wilandana dalam melawan Belanda. Situasi dan kondisi masyarakat Ladeh pada saat Daendels membuat jalan Anyer – Panarukan (Banyuwangi). Hingga akhirnya pasukan Mataram ada yang ke Indihiang (Ciamis), Majalaya, Sukalilah, Cibiru, Cililin (Bandung), Jampang wetan, Ciletuh (Ciemas), Cimulek (Waluran), Pabuaran (Lengkong), Sukatani (Jampangkulon). Dan Sunan Nalagangsa sampai ke tempat yang kini dikenal dengan Batu Suhunan (Batu Masigit) Curug Cigangsa, yang merupakan objek wisata alam yang sangat indah di Kecamatan Surade.


2.  Piagam Ki Dipati Galunggung


a. Isi Naskah Piagam Ki Dipati Galunggung


Purwaka  : punika ingkang pikukuh kangjeng ki Dipati Galunggung …… dst

Kolofon : ………tatkala nurat hing dina jumahat sasih jumadil lahir tanggal pat likur tahun he. titip.


b.       Cerita rakyat yang berkaitan dengan naskah piagam Ki Dipati Galunggung


Menceritakan perjuangan Dalem Sawidak (Sukapura-Galuh), Ki Dipati Galunggung, Entol Martadilaga (Dalem Penghulu Singaparna), Syeh Abdul Muhi (Sunan Godog-Pamijahan, Garut), Senopati Jayaperkosa (Sumedang), Alibasyah dan Citrowagolo (Banyumas), Rakswijaya dan Nayasantana (Cirebon), Tumenggung Bahurekso dan Sura Agul-agul, Syeh Abdul Mukodar dalam menyerang Belanda di Batavia sampai menyebar ke Kp. Mandalika- Gununggeulis, Cikembar, ke Sukatani-Pabuaran, ke Citarate-Cisolok, Palabuanratu, ke Binong-Lembursitu, Sukabumi, ke Pabuaran-Dayeuh luhur, ke Citalahab–Bojonglopang, ke Karadenan Cibitung, dan membangun perkampungan Mataram serta menggali parit yang disebut Kalibunder. Mama Ajengan Beleketek setelah wafat dimakamkan di Kp. Tanjung dan dikenal dengan Eyang TANJUNG.


c.       Silsilah yang ada kaitannya dengan piagam Ki Dipati Galunggung


Menceritakan perjuangan embah Maryani atau eyang Siluman atau dikenal dengan eyang Salenggang atas perintah Sultan Sunda Kelapa bersama kesultanan Banten dalam menyerang kompeni Belanda di Batavia. Perjuangan eyang Siluman, pangeran Sumenep, pangeran Jayadilaga Banten dan embah Mardin Cimaja Palabuanratu dalam menyelamatkan putri Pati Sawana Banten dari para Bajo (bajak laut) hingga bermukim di Surade.


6.  Sejarah Pemerintah Desa Pasiripis


Sejarah Desa Pasiripis dan Susunan Kepala Desa dari tahun 1811 hingga tahun 2008 beserta keberhasilannya dalam pembangunan.


7.  Sasakala Pantai Minajaya


Menceritaka asal usul terjadinya nama Pantai Minajaya pada tahun 1964 saat Negara Republik Indonesia sedang memperebutkan Irian Jaya dengan Malaysia dari tangan Belanda.


8.  Bukti Peninggalan Sejarah


Benda-benda dan tempat/situs peninggalan sejarah yang masih berada di Surade, disertai para penyimpannya.


DAFTAR PUSTAKA


LAMPIRAN-LAMPIRAN :


a)   Bahan Renungan


b)   Daftar Informan


c)   Biografi Narasumber


d)   Biografi Penulis


e)   Team Penyusun


f)    Photo Seminar Penulisan Buku Sejarah Surade


Ingin tahu lebih jauh tentang Sejarah Surade ?


Baca buku “Sejarah Surade” yang mengupas tuntas tentang Asal Usul Surade, cerita rakyat, Manuskrip, adat istiadat, benda-benda dan situs peninggalan sejarah dll.


Anda bisa mendownloadnya di sini ………!!!


Sehubungan dengan banyaknya permintaan Buku Sejarah Surade, namun karena keterbatasan pencetakan maka buku tersebut sudah habis kami berikan kepada yang berkompeten di Pemerintahan Kabupaten Sukabumi. Dan buku Sejarah Surade tidak di cetak lagi.

Untuk mengantisipasi permintaan tersebut kami memberikan dalam bentuk file pdf.


Dengan tidak mengurangi rasa hormat, demi keberlangsungan web ini serta pengembangan penelusuran sejarah selanjutnya,  maka dimohon untuk memberikan donasinya sebesar Rp. 50.000,- Donasi yang anda berikan akan sangat membantu kami dalam pengembangan web dan penelusuran sejarah lainnya. Bagi yang berminat memberikan donasi bisa melalui :


Bank BRI



Kantor Cabang

:

Sukabumi Unit Surade

Nomor Rekening

:

3455-01-000661-50-9

Atas Nama

:

dede jamaludin

 

Setelah mentransfer donasinya, silahkan anda konfirmasi melalui SMS ke : 0857 2293 0666. Atau melalui BB PIN Dengan menyebutkan Nama dana Alamat. Dan kami akan langsung memberikan Passwordnya

Atas Perhatian, Partisipasi dan kerjasamanya, kami ucapkan terima kasih.



 
© 2014 baladaka.org | baladaka surade by vonfio.de