Home Buku Sejarah Surade Kilas Sejarah Daerah Surade
Kilas Sejarah Daerah Surade

 

Keberadaan dan atau kehadiran masyarakat Surade tidak datang dengan sendirinya tanpa latar belakang. Latar belakang yang berbeda mendasari kehidupan masyarakat namun perbedaan tersebut menjadikannya sebagai dasar persatuan yang kuat.


Masyarakat Surade merupakan kelompok suku Sunda yang memiliki sistem budaya pribadi sendiri dalam memandang institusi budaya hidupnya, tidak terlepas dari benang merah masa lalu, yakni “Sejarah Surade”.


Sejarah adalah manifestasi yang khas manusiawi yang dapat kita telusuri sejak perkembangan kemanusiaan yang paling dini, sejauh itu meninggalkan jejak-jejaknya melalui perwujudan tertentu. Dari goresan berupa lukisan atau tulisan sampai dengan jejak yang berupa dokumen serta monumen, manusia sepertinya ingin menandai kehadiran-nya dalam suatu masa dan rekaman yang ditinggalkannya itu diharapkan di kemudian hari dapat menjadi petunjuk tentang kehadirannya itu. (Fuad Hassan, Prof. l991:36).


Sejarah memberikan sumbangan bagi manusia kini dan masa depan dalam membentuk status seseorang, dalam arti inilah maka kesejarahan itu sangat penting artinya dalam pembentukan identitas baik sebagai pribadi atau sebagai kolektivitas. Jika kita memiliki kesadaran untuk mengetahui diri kita, maka dengan sejarah dihadirkan akan membantu bahkan membawa kita pada realita hidup yang lebih menunjukan identitas.


Surade adalah suatu tempat yang kini telah menjadi ibu kota kecamatan dan termasuk wilayah pemerintahan di Kabupaten Sukabumi. Letaknya di pesisir pantai Samudra Indonesia (± 112 Km) dari pusat kota Sukabumi ke arah Selatan.


“Surade” berasal dari kata “SURA – RAH – HADIAN” yang artinya berani mengeluarkan darah demi kesucian, atau darah manusia pemberani. Kata Sura Rah Hadian merupakan ucapan Rd. Suranangga bersamaan dengan pelepasan nama gelar bangsawan pada nama diri dan keluarga serta keturunannya. Sebagai pertanda berdirinya sebuah kampung maka ditanam batu indung lembur dan pelaksanaan upacara nyebor. Hal ini terjadi pada tanggal 2 bulan Syuro  tahun Wawu (kalender Jawa),  atau tanggal 2 Muharam 1179 H atau pada kalamangsa ”Taya Tangan Pangawasa Wisesa” bertepatan dengan hari Anggara, tanggal 20 wulan Kapat Purnimanta (Krisnapaksa) sama dengan tanggal 4 wulan Kalima Amanta (Suklapaksa), candrasangkala Nora Hasta Sad Rahayu = 1680 tahun Saka (kalender Sunda). Bertepatan dengan hari Selasa, tanggal 5 Desember 1758 Masehi (perhitungan/terjemahan Anis Djatisunda).


Cerita ini terungkap dengan ditemukan sebuah kampung tempat persinggahan bangsawan Imbanagara Rd. Mas Surabujangga ketika pengejaran terjadi atasnya oleh Mataram dan kompeni Belanda sampai wafatnya. Tempat ini pula yang menjadi saksi atas peristiwa sangat tragis yaitu terjadinya perselisihan antar saudara sebangsanya sehingga memakan korban yang tidak sedikit dari keduanya. Tempat ini yang menjadi bukti adanya Surade yaitu kampung Sindanglaya. (Sindang=Bahasa Sunda artinya singgah, laya= meninggal).


Tidak hanya itu yang menjadi bukti sejarah adanya Surade. Terdapat beberapa hal yang perlu kita ketahui dan kaji, diantaranya ditemukan sebuah buku tulisan kunonya sebut saja Buku Hideung (hitam). Buku ini merupakan bagian bukti sejarah adanya Surade. Karena isi dari buku tersebut salah satunya mengisyaratkan adanya kekuatan pangeran sejati yang memiliki kesaktian serta disemangati oleh darah perjuangan dan selalu diliputi rasa kasih sayang, pejuang lahir dari Imbanagara dan pergi ke kesejatian sejati.


Bunyi dari tulisan yang terdapat dalam buku Hideung tersebut dapat dilihat sebagai berikut :

 

( Disalin oleh Ki Kamal, 1975 )

 

(Darah unggul tidak seberapa keluar, (karena pertanda)

kekuatan pangeran sejati, terceceri semua darah unggul….masuk….,

kepada yang penuh (dengan) kesaktian….bur….Titip.

Kan sudah jelas Keberanian…darah bangsawan, kerabat Jagabaya,

anak terlahir dari Imbanagara, yang keluar bepergian ke kesejatian sejati,

maklum kelakuan seorang pangeran, ada kemanjaan masa lalu

(penuh kasih sayang)  yang malah jadi penghalang, (yang semula)

calon ratu,(malah) jadi pembakar menentang musuh, bur…

(diterjemahkan oleh  Anis Djatisunda, Budayawan Jawa Barat).


Buku tersebut masih tersimpan rapi pada salah seorang warga Surade dengan pemeliharaan yang intensif.


Wangsit berbahasa Jawatengahan yang tercantum dalam Buku Hideung, setelah diterjemahkan secara bebas, isinya memberitakan seorang Pangeran kerabat Jagabaya dari Imbanagara yang semula ia dicalonkan untuk menjadi ratu, malah menjadikan timbulnya ketegangan dengan musuh. Sehingga akhirnya ia pergi meninggalkan Imbanagara.


Sumber lain memberitakan Kabupaten Galuh Imbanagara diperintahkan oleh Raden Adipati Jagabaya tahun 1731 – 1752 M. Berahkirnya pemerintahan Adipati Jagabaya (1752 M) diganti secara paksa oleh Adipati Kusumadinata atas desakan Kompeni Belanda, sehingga timbul persengketaan Sang Pangeran dengan sang Bupati. Karenanya ia memilih pergi secara diam-diam meninggalkan Imbanagara ke arah barat, ke wilayah Surade sekarang.


Keberadaan masyarakat di suatu daerah tentu mempunyai sejarahnya masing-masing dengan latar belakang yang berbeda-beda pula. Hal ini telah diingatkan oleh para leluhur sebagaimana yang tertulis pada koropak 632, dari Kabuyutan Ciburuy–Bayongbong Garut (Amanat Penguasa Galunggung) bahwa:


nanya ka nu karwalwat, mwa téo(h) sasab na agama pun, na sasana bawat kwalwat pun, hana nguni hana mangké tan hana nguni tan hana mangké, aya ma beuheula aya tu ayeuna, hanteu ma beuheula hanteu tu ayeuna, hana tunggak hana watang tan hana tunggak tan hana watang, hana ma tunggulna, aya tu catangna, hana guna hana ring demakan, tan han guna tan hana ring demakan.


Bertanyalah kepada orang-orang tua (sesepuh), niscaya tidak akan hina dan tersesat dari agama, ada dahulu ada sekarang, tidak ada dahulu maka tidak akan ada sekarang, ada masa lalu maka ada masa sekarang, bila tidak ada masa lalu maka tidak akan ada masa kini. Ada tunggul kayu ada batang, tidak  ada tunggul kayu maka tidak akan ada batangnya. Kalau tidak ada generasi dahulu maka tidak akan ada generasi sekarang. Ada jasa ada anugrah, tidak ada jasa tidak akan ada anugrah


Secara keseluruhan kalimat di atas berisi nasehat dan petunjuk ajaran kehidupan dari Raja Sunda Prabu Guru Dharma Siksa (1175-1297) kepada putranya, Prabu Raga Suci alias Sang Lumahing Taman beserta cucu dan cicitnya, juga segenap masyarakatnya kala itu. Hal ini terlahir karena menurut pandangannya, zaman itu sudah banyak masyarakat sunda yang “loba di Sanghiyang Siksa” atau melanggar adat istiadat.


Dalam kontek proses budaya masyarakat kita sekarang, kalimat tersebut memberikan petunjuk bahkan peringatan. Bahwa, pranata budaya manusia setiap kurun waktu merupakan suatu kemustahilan bisa terlepas dari rentang benang merah perjalanan sejarah budaya “kuno” masa lalunya. Satu-satunya patokan utama bagi pegangan pemahaman hal tersebut adalah sejarah.


Dikaitkan dengan Sumber Daya Manusia yang ada mengenai produk pemikiran masyarakat sekarang baik politik, ekonomi, sosial, budaya atau munculnya momentum, tidak terlepas dari bahan-bahan yang sudah ada sebelumnya.


Peninggalan sejarah yang berasal dari masa ke masa, tidak hanya berbentuk benda tetapi juga berupa tradisi, legenda, dan lain-lain yang merupakan dokumentasi kebudayan. Selain itu peninggalan sejarah merupakan hasil logika, etika, estetika bangsa Indonesia, yang mencerminkan sejarah dan budaya bangsa. Hal ini merupakan kekayaan yang dapat didokumentasikan. Sebagai sumber inspirasi untuk meningkatkan apresiasi yang dapat dikembangkan melalui karya seni lainnya baik dalam bentuk naskah Teather, Sinetron,  Roman Sejarah,  puisi, pantun dan lain-lain.


Mempelajari sejarah merupakan salah satu media edukatif juga kultural, sehingga dapat mempertebal rasa Kesatuan dan Persatuan Bangsa; meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai aset budaya lokal dan kondisi perkembangan wilayah sebagai penopang kebutuhan masyarakat dalam melakukan perubahan menuju kualitas yang lebih baik. Mempelajari sejarah dapat memberikan manfaat yang besar diantaranya memberikan visualisasi peristiwa kesejarahan dalam konteks waktu dan tempat; mempertinggi budi pekerti, berkepribadian, mempertebal semangat kebangsaan, dan cinta tanah air; dan bermanfaat sebagai penangkal budaya asing.


Buku Sejarah Surade merupakan sebuah upaya dalam rangka mewariskan nilai-nilai yang terkandung dalam makna cerita rakyat tersebut. Buku Sejarah Surade dapat dijadikan sebagai media bacaan dalam rangka memperoleh pengetahuan tentang asal-usul penduduk serta yang melatar belakanginya. Sehingga kita memiliki kebanggaan tersendiri sebagai masyarakatnya.


Buku Sejarah Surade terlahir sebagai upaya penjernihan akibat kekeliruan, kekaburan, ketidaklengkapan dalam pengisahan yang merupakan akibat subyektivitas berlebihan dari para informan dari masa ke masa. Sebab salah satu tradisi suku Sunda masa lalu, dalam mendokumentasi sebuah peristiwa melalui prasasti-prasasti batu atau naskah-naskah lontar dan artefact-artefact (perkakas peradaban kuno) primer lainnya. Tidak sedikit yang dituturkan turun temurun secara “oral” (dari mulut ke mulut), berupa cerita-cerita pantun, dongeng sasakala (toponimi) dan sebagainya.


Kami sebagai masyarakat muda yang berkeinginan, merasa terpanggil untuk melestarikan budaya dan memelihara benda-benda sejarah yang belum diinventarisir secara efisien di Surade. Berdasarkan hasil penelusuran yang kami lakukan, juga ditunjang dengan pengalaman narasumber yang memperkuat keakuratan cerita dalam buku ini.


Dalam menghimpun informasi dan benda-benda peninggalan sejarah sebagai penunjang kegiatan kami, dan untuk mendapatkan legimitasi dari masyarakat Surade maka diadakan seminar tentang Penulisan  Buku Sejarah Surade. Yang diselenggarakan pada Hari Minggu, 22 Juni 2008, dengan menghadirkan tokoh masyarakat, para penutur cerita dan para penyimpan benda peninggalan sejarah. Adapun narasumber dalam Seminar Penulisan Buku Sejarah Surade; 1. Kamaludin. Beliau merupakan masyarakat Surade sebagai petualang dalam penelusuran Sejarah Surade dan sekitarnya, 2. Drs. Djuanda. Beliau merupakan asli masyarakat Jampangkulon, sebagai tokoh seni dan budaya Kabupaten Sukabumi, 3. Anis Djatisunda. Beliau merupakan tokoh Budayawan Jawa Barat.


Seminar tersebut merupakan hasil kerjasama kami dari Baladaka (Balad Pemuda Kreatif) Surade dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Kabid Bina Kebudayaan) Kabupaten Sukabumi.


Sebagai warga masyarakat yang peduli akan daerah kelahiran, kami merasa terpanggil untuk ikut melestarikan benda-benda peninggalan    sejarah   yang   berada    di   Surade.    Kami    sangat menyesalkan apabila benda-benda peninggalan bersejarah terabaikan dan dibiarkan begitu saja, apalagi jika generasi berikutnya di kemudian hari melupakan bahkan mungkin tidak akan mengenal lagi. Padahal benda tersebut sangat berarti dan merupakan aset budaya daerah serta memiliki nilai sejarah.


Dengan semangat kebersamaan dan motivasi yang kuat dari semua pihak, terutama para sesepuh masyarakat Surade dan sekitarnya yang mengharapkan terinventarisir-nya bukti-bukti Sejarah Surade, sehingga dapat memotivasi generasi muda untuk lebih mencintai budaya daerahnya sendiri.


ooOoo

 
© 2014 baladaka.org | baladaka surade by vonfio.de