Home
baladaka.org
Rajah Pamunar



Pun……sapun !

Palias ngiruhan girang

Di leuwi ki papantunan

Gelik suling jeung sonari

Galindengna angin laut

Awuhan gending kahéman

Selanjutnya...
 
Administrasi Pembukuan

 

Semangat Kawan……!!!


Setiap hari kita selalu dihadapkan pada pekerjaan yang sangat menyita waktu dan pikiran. Namun demikian, pekerjaan apabila kita kerjaan dengan hati yang tulus maka pekerjaan bisa kita kerjakan dengan baik dan benar. Insya Allah.

 

Dalam menyikapi beberapa pekerjaan yang telah saya alami selama ini, saya mencoba membuat administrasi pembukuan yang cukup lumayan membantu dalam pekerjaan sehari-hari saya selama ini. Semua administrasi pembukuan yang ada dibawah merupakan administrasi yang saya coba di modifikasi dari beberapa sumber. Untuk itu saya mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam pembuatan administasi tersebut dan saya mohon maaf tidak bisa menyebutkan secara satu persatu sumber referensi administrasi tersebut.

 

Di sini saya akan sharring dengan rekan-rekan, beberapa aplikasi yang pernah saya kerjakan selama ini. Dan mudah-mudahan bisa sedikit membantu dalam mengerjakan pekerjaan yang sama atau sebagai referensi rekan-rekan dalam membuat administrasi pembukuan yang lebih baik.

 

Selanjutnya...
 
Buku Sejarah Surade


Mengupas tuntas Asal-Usul / Sejarah terjadinya nama Surade, manuskrip piagam peninggalan sejarah, benda-benda dan situs peninggalan sejarah, cerita rakyat, adat istiadat dan lain-lain.

 

Buku “Sejarah Surade” telah melalui beberapa proses yang sangat panjang. Sumber utama sebagai Narasumber Buku ini adalah Ki Kamaludin dan Ki Anis Djatisunda (Budayawan Jawa Barat).



Suatu komunitas bangsa yang sekali saja generasinya tidak tahu menahu warisan jati diri budaya dan sejarah pribadinya sendiri maka sepanjang zaman warisan budaya dan sejarahnya itu akan lenyap dari hati bangsa itu. Hilangnya warisan budaya dan sejarah suatu bangsa, berarti hilang pula entitas (keberadaan) dan eksistensi (kehidupan) bangsa itu


Di era globalisasi sekarang ini nasib kesenian dan budaya daerah, keberadaan dan kehidupannya sangat memprihatinkan di kalangan generasi muda. Hancurnya ketahanan budaya bangsa berarti pula ambruknya ketahanan nasional. Perilaku budaya yang baik dan buruk di masa lampau, hendaknya jangan di campakan, tetapi harus dijadikan landasan untuk melangkah ke masa depan.


Peninggalan sejarah yang berasal dari masa ke masa, tidak hanya berbentuk benda tetapi juga berupa tradisi, legenda, dan lain-lain yang merupakan dokumentasi kebudayaan. Selain itu peninggalan sejarah merupakan hasil logika, etika, estetika bangsa Indonesia, yang mencerminkan sejarah dan budaya bangsa. Dapat dijadikan sumber inspirasi untuk meningkatkan apresiasi yang dapat dikembangkan melalui karya seni lainnya baik dalam bentuk naskah Teather, Sinetron,  Roman Sejarah,  puisi, pantun dan lain-lain.


Kelompok masyarakat etnik/suku Sunda pada zaman dahulu sudah memiliki berbagai peraturan kemasyarakatan yang kala itu lajim disebut purbatisti purbajati atau sanghyang siksa. Di dalamnya terkandung nilai-nilai; nilai pengetahuan, nilai religi, nilai sosial, nilai ekonomi, nilai seni yang ditunjang oleh norma-norma dan aturan-aturan hukum. Salah satu prediksi solusi tumbuh kembalinya budaya pribadi bangsa kita melalui motto “Ka hareup ngala sajeujeuh, ka tukang ngala saléngkah, ka kamari pulang anting, isukan mindeng anjangan, ulah poho tempa tempo ka pagéto”.


Surade adalah suatu tempat ibu kota kecamatan dan termasuk wilayah pemerintahan di Kabupaten Sukabumi. Letaknya di pesisir pantai Samudra Indonesia (± 112 Km) dari pusat kota Sukabumi ke arah Selatan. Masyarakat Surade merupakan kelompok suku Sunda yang memiliki sistem budaya pribadi sendiri dalam memandang institusi budaya hidupnya, tidak terlepas dari benang merah masa lalu, yakni “Sejarah Surade”. Buku Sejarah Surade merupakan sebuah upaya dalam rangka mewariskan nilai-nilai yang terkandung dalam makna cerita rakyat sehingga dapat bermanfaat bagi warga masyarakat dalam mengidentifikasi rentang benang merah institusi budaya masa lalu masyarakat, merentang ke depan meniti perkembangan zaman yang demikian gencar.


Lahirnya buku Sejarah Surade suatu penanda, pembuktian bahwa Surade dan sekitarnya memiliki perjalanan sejarah daerah dan masyarakatnya yang cukup heroic dan benar-benar otentik. Ditemukannya icon-icon superioritas putra-putri Rd. Mas Jagabaya Bupati Galuh Imbanagara (1731 – 1752 M) yang meninggalkan kampung halamannya seperti Nyi Raden Raksanagara, Raden Mas Martanagara eyang Karang Bolong, Raden Mas Surabujangga, Raden Mas Surawiangga embah Emas Jampangkulon, Raden Mas Suranangga Eyang Wira Santri Dalem Cigangsa dan Nyi Raden Mas Suradewi, para pejuang penentang Kompeni Belanda pada tahun 1750-an yang rela kehilangan nyawa dari pada harus tunduk kepada penjajah, membuktikan bahwa diantara masyarakat Surade dalam tubuhnya mengalir darah-darah pahlawan yang bangsawan. Namun sejarah menceritakan bahwa demi merujuk kepada tujuan persatuan dan kesatuan diantara keturunan mereka dengan pihak-pihak lainnya, maka jabatan dan gelar kebangsawanan mereka ditanggalkannya seraya melarut dengan kalangan masyarakat biasa secara turun temurun dengan tertib, rukun, aman, penuh keserasian dan kedamaian.

Selanjutnya...
 
© 2014 baladaka.org | baladaka surade by vonfio.de